Mengintip Liga Serie A, Salah Satu Liga Terbaik di Dunia

Judi Bola Liga Italy

Italia merupakan negara yang terletak di benua Eropa, tepatnya di jantung laut Mediterania. Negara yang sering disebut lo Stivale ini memiliki penduduk mencapai 61 juta jiwa. Menara Miring di Pisa merupakan salah satu icon terkenal dari Italia. Namun, bagi para pecinta olahraga sepak bola, Italia terkenal akan Liga Serie A-nya.

Liga Serie A atau juga sering disebut Serie A TIM merupakan liga sepak bola profesional tertinggi dalam sistem liga sepak bola Italia. Liga ini sudah berjalan selama lebih dari delapan puluh tahun. Serie A sendiri dikenal karena permainannya yang cantik. Pesona permainan indah yang sarat akan detail taktik merupakan keunggulan liga satu ini dibanding liga-liga negara Eropa lainnya.

Mengenal Liga Serie A

Liga Serie A pertama kali dibentuk pada tahun 1898 dengan format kejuaraan, tapi musim 1929-1930 format diganti menjadi sistem kompetisi, yang dimulai pada bulan Agustus hingga Juni dan dipakai hingga sekarang. Mulanya liga ini dijalankan oleh Lega Calsio hingga 2010, tetapi pada awal musim 2010-2011 Serie A dijalankan oleh organisasi baru, Lega Serie A.

Serie A mencapai puncak kejayaan pada tahun 1990-an hingga pertengahan 2000-an dan dianggap sebagai salah satu liga terbaik di dunia. Serie A sendiri telah menghasilkan sejumlah finalis Liga Champions UEFA, tercatat dua puluh enam kali klub Italia berhasil mencapai final kompetisi bergengsi Eropa tersebut dan berhasil dua belas kali memenangkan gelar tersebut.

Selain menempati peringkat keempat di liga sepak bola Eropa, di bawah Liga Utama Inggris, La Liga Spayol dan Bundesliga Jerman, Serie A juga menduduki peringkat lima seri sepak bola terbaik dunia menurut IFFHS tahun 2011. Hal ini membuktikan bahwa Serie A merupakan salah satu liga terbaik di dunia.

Format Klub dalam Musim Liga Serie A

Waktu pelaksanaan kompetisi Liga Serie A adalah dari bulan Agustus hingga Juni di tahun berikutnya. Sejak pertama kali dibentuk di tahun 1898, Serie A sudah mengalami perombakan format pertandingan, yang awalnya kejuaraan menjadi sistem kompetisi. Pada sistem kompetisi pun sudah beberapa kali dilakukan perubahan jumlah klub yang mengikuti liga nomor satu Italia ini.

Di tahun 1946-1947, ada 20 klub yang merumput di Serie A. Jumlah ini bertambah menjadi 21 klub di musim 1947-1948 dan kembali menjadi 20 klub pada musim berikutnya hingga musim 1952. Di musim 1952 hingga 1967, jumlah klub di Serie A menurun menjadi 18 klub saja. Di tahun berikutnya 1957-1988 hanya 16 klub yang berkompetisi di liga ini. Di 1988-2004 jumlah klub kembali ke angka 18 dan sejak 2004 hingga sekarang kembali ke format 20 klub.

Pada sistem kompetisi, dipakai sistem pertandingan kandang dan tandang dengan total 38 pertandingan (jika yang ikut 20 klub) untuk setiap klub. Setiap klub akan melakoni 19 kali pertandingan dengan tim lawan yang berbeda di paruh musim pertama, lalu melakoni jumlah pertandingan yang sama di musim berikutnya. Perbedaannya hanyalah tempat pertandingannya, yang sebelumnya kandang menjadi tandang, begitupun sebaliknya.

Nilai yang didapat masing-masing klub berbeda, tergantung hasil pertandingan. Tim yang menang akan mendapat 3 poin dan yang kalah tidak akan mendapatkan poin. Untuk hasil pertandingan imbang, masing-masing tim akan mendapatkan nilai 1. Tim yang mengumpulkan nilai terbanyak di akhir musim akan menjadi juara liga Serie A dan mendapat gelar Scudetto.

Klub-klub Terbaik Serie A

Membahas Serie A tanpa klub-klub terbaik di dalamnya akan terasa kurang. Klub Serie A yang paling jenama sekarang ini adalah Juventus, karena berhasil meraih kampium untuk ketujuh kalinya secara beruntun. Juventus sendiri sudah mengantongi 33 gelar juara, 21 runner up, dan 13 kali di posisi tiga besar Serie A.

Klub Inter Milan juga memiliki capaian bagus di Serie A. Inter Milan menjadi satu-satunya tim yang tidak pernah absen berlaga di Seri A. Dengan raihan 18 gelar Scudetto, 14 runner up, dan 21 kali berada di posisi 3. Selanjutnya ada Internazionale, yang sudah memiliki raihan kampium yang sama dengan Milan, ditambah 14 kali posisi dua dan jumlah yang sama untuk posisi tiga.

Pasang Surut Perjalanan Juventus, Sang Legenda Sepak Bola Dunia

Bermula dari nama Societa Via Port, Juventus dibentuk pada tahun 1897. Kemudian nama Societa Via Port berganti menjadi Societa Sportive Massimo D’Azeglio, tapi nama tersebut tak jua memberi keberuntungan sehingga Sport Club Juventus akhirnya dipakai. Ternyata, nama tersebut berhasil menarik hati para pendiri sehingga mereka pun sepakat menggunakannya.

Juventus berbasis di Turin, Piedmont, Italia. Klub ini sudah mengalami pahit manis dunia sepak bola Italia dan Eropa. Juventus sudah mengarungi beragam sejarah yang mematangkannya sebagai klub tersukses dalam sejarah Liga Italia Serie A. Dengan raihan 28 gelar juara, Juventus menempatkan diri sebagai klub terbaik Italia di abad ke-20 dan dianggap sebagai legenda sepak bola dunia.

Rekam Raihan Terbaik Juventus

Juventus mulai mendapat perhatian di tahun 1897. Walaupun pertandingan pertama Juventus berakhir dengan kekalahan, bahkan menjadi bulan-bulanan. Rupanya, hal itu sama sekali tidak membuat Juventus mendapat hinaan, justru menuai pujian. Skill individu para pemain yang dianggap lumayan dan memiliki potensi untuk berkembang, menjadikan tim satu ini mendapat pujian bahkan dari sang lawan.

Pada 1900, Juventus sudah menjadi bagian liga profesional dan mencapai final fi musim kompetisi 1903-1904. Sukses pertama Juventus diraih pada 1905, ketika menjuarai grup Piedmont dengan mengandaskan Milan dan menahan seri Genoa. Sukses kedua niscaya akan diraih, andai saja Juventus tidak memutuskan walk-out dari pertandingan final kompetisi 1906 ketika berhadapan dengan AC Milan.

Juventus baru meraih kembali momentum saat membungkan Genoa di final Grup Utara pada tahun 1920, walaupun kala itu Juventus gagal mencicipi gelar juara karena dijegal oleh Inter Milan. Berkat pengambilalihan kepemilikan Juventus di tahun 1923 oleh Edoardo Agnelli, pemilik FIAT, Juventus kembali meraih scudetto kedua pada 1925 dengan menekuk Alba Roma dengan agregat 12-1.

Pasang Surut Perjalanan Juventus

Masa-masa berikutnya, Juventus mengalami pasang-surut prestasi. Bergabungnya Omar Sivori dan John Charles di tahun 1957 membuat Juventus dapat meraih gelar ke sepuluh. Namun, di musim berikutnya Juventus harus puas berada di posisi 4. Barulah di 1959 Juventus kembali meraih juara dan memertahankannya selama dua tahun berikutnya. Setelah itu, performa Juve kembali surut dan baru kembali bangkit di 1966.

Adanya konfik di dalam Juventus, membuat klub ini tak mendapat gelar apa pun pasca 1966. Dengan perubahan formasi pemain, taktik, pelatih, serta perombakan manajemen klub, akhirnya bisa mengantarkan Juventus meraih puncak di 1971. Permainan apik Bettega dan Causio kala itu dapat meredam AC Milan. Lalu kehadiran penjaga gawang Dino Zoff dan Jose Altafini di tahun berikutnya memperpanjang gelar Juventus.

Kebangkitan Sang Legenda

Masa perjalanan yang panjang telah merekam gelar dan kesuksesan Juventus. Masa keemasan berganti dengan keterpurukan, badai skandal mengguncang Juventus, menyebabkan klub ini harus turun kasta ke Serie B pada musim 2006-2007. Hal ini tentu saja membuat para pemain, official dan pendukung Juventus begitu kecewa, membayangi kiprah sang legenda di Serie B.

Namun, setelah berhasil meraih kemenangan atas Crotone, Piacenza, Modena, Treviso, Triestina, Frosinone dan Brescia, Juventus kembali mendekati zona promosi. Pada musim 2007-2008, Juventus kembali merumput di Serie A. Bangkit dari kubur, Juventus mengamuk di awal kembalinya ke Liga utama. Criscito, Andrade, Grygera, Molinaro, Tiago, Almiron, Vicenzo Iaquita, Nocerico dan Salihamidzic, rupanya mampu membuat Juventus memberi gebrakan di awal musim.

Juventus berhasil menekuk Liorvo 5-1 pada pertandingan perdana, kemudian membekuk Cagliari 3-2, menahan imbang AS Roma dengan skor 2-2, dan memecundangi Reggina dengan 4-0, menekuk Empoli 3-0, dan menahan sang juara bertahan dengan skor 1-1. Musim itu Juventus kembali memosisikan dirinya ketiga besar setelah berhasil menundukkan AC Milan, Parma, Atlanta dan Lazio.

Memang Juventus tidak berhasil menduduki posisi puncak, tapi untuk sebuah klub yang baru saja merangkak naik dari Serie B, posisi tiga bukanlah raihan yang buruk. Juventus juga mencatatkan kebanggaan lain di musim itu melalui sang kapten, Del Piero yang berhasil menjadi top scorer dengan menyarangkan 21 gol ke gawang lawan di sepanjang musim.